Senin, 29 Januari 2018

Bacabaca 40: Hibiscus oleh Agnes Arina

Judul: Hibiscus
Penulis: Agnes Arina
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: 2013
Tebal: 252 halaman, paperback
ISBN: 9786027888876

Bali gempar. Pierre Villeneuve, wisatawan asal Perancis, ditemukan tewas terbunuh di sebuah kamar hotel mewah. Tangannya menggenggam bunga sepatu dan tak ada yang bisa memecahkan arti dari bunga itu.

Bagaskara, seorang detektif yang menyamar menjadi pemandu wisata, adalah pemandu yang mengantar Pierre dan keluarganya keliling Bali pada hari naas itu. Bagas gusar. Rasa keadilannya terpancing.

Kini yang bergerak bukan Bagas si pemandu wisata, tapi Detektif Bagaskara. Meski dengan mempertaruhkan misi dan samarannya, dia bertekad mengungkap kasus pembunuhan ini sampai tuntas. Semakin dia menyelidik, semakin dia menemukan banyak korban lain.

Dia kini harus mengerahkan semua kemampuannya untuk mencari si pembunuh sebelum jatuh korban berikutnya. Bagas sadar kini dia dikejar oleh waktu, tanggung jawab dan kematian.


***

Sampul novel ini menarik dan sederhana. Pertama kali melihat, saya rasa akan banyak yang langsung tertarik dengan desain sampulnya. Sebuah telapak tangan yang menggenggam bunga sepatu, dengan background warna pastel yang tidak terlalu mencolok.

Jadi, saya pun membawanya pulang. Hanya sekilas membaca sinopsis, saya bisa memastikan kalau isinya adalah sebuah cerita detektif.

Cerita ini bermula dari seorang pemandu sebuah agen pariwisata bernama Bagas yang bertugas untuk memandu keluarga Perancis, Pierre Villeneuve dan keluarga. Awal pertemuan dengan keluarga ini tak berlangsung buruk, sebab Pierre adalah orang tua yang ramah. Namun, beberapa pertemuan dengan orang Perancis lainnya, membuat Pierre tak nyaman, apalagi setelah anaknya menyusul ke Bali untuk berlibur bersama pacarnya, David Biguais.

Selang waktu dari awal pertemuan, Pierre ditemukan tewas dengan dua luka tusukan. Tangannya menggenggam bunga sepatu yang sudah layu.

Dari sana, si pemandu bernama Bagas, melupakan tugasnya dan samarannya yang kala itu diperintahkan untuk membuka kasus penyelundupan kayu. Karena tertarik dengan kasus pembunuhan Pierre, maka Bagas pun mengambil bagian dalam kasus itu, tanpa membuka kedoknya sebagai pemandu. Perjalanannya di Bali, membuka beberapa petunjuk yang masih abu-abu.

Secara garis besar, buku ini mengalir seperti buku-buku detektif pada umumnya. Mengalir dan mengantar kita menuju petunjuk-petunjuk yang harus disusun ulang oleh pembaca bagai sebuah teka-teki. Mungkin, kelemahan yang ada dan bisa menjangkiti para pembaca hanyalah permainan detail. Terlalu banyak nama dan detail yang membuat pembaca kadang kala lupa pada detail itu, dan harus mundur beberapa halaman, untuk membaca kepentingan tokoh-tokoh tambahan dan detail-detail yang kurang tergali. Saya saja sudah beberapa kali membolak-balik halaman, karena kerap lupa dengan Pauline Roland, keluarga Le Coq, keluarga ini, dan keluarga itu. Setelah menemukan detail tersebut, saya kembali ke depan, kembali ke pengumpulan teka-teki yang dilakukan oleh Bagas dan teman-temannya yang juga menyamar.

Kadang, saya juga bingung, kenapa harus begitu banyak samaran yang dilakukan? Sebegitu mengertikah si penjahat yang kelihatannya amatir ini terhadap penyamaran? Ah entahlah kalau itu. Mungkin, dengan tegas penulis ingin menampilkan sebuah kisah detektif yang penuh intrik dan samaran, agar pembaca pun tak bosan membaca tokoh-tokoh. Namun, yang saya temui malah kemajemukan tokoh. Satu tokoh menjadi macam-macam wajah yang detailnya kerap saya lupakan.

Pada akhirnya, penulis terlalu cepat menyimpulkan kasus pembunuhan. Terlalu buru-buru menarik alibi dan modus operandi pembunuh, sehingga dengan mudah, pembunuh Pierre pun ditemukan. Rasanya, setelah dibawa masuk ke dalam labirin rahasia, tiba-tiba saja pintu keluar itu terbuka di depan mata. Saya merasa, penjelajahan saya dalam mengumpulkan teka-teki rahasia itu jadi biasa saja. Tidak wah.

Namun, saya salut pada penulis, karena baru kali ini ada penulis perempuan yang mencoba untuk memunculkan kisah detektif (kebetulan saya membaca ini di tahun 2013). Pembaca rasanya perlu disuguhkan novel genre seperti ini lebih banyak. Apalagi setelah beberapa waktu lamanya para pembaca apalagi pembaca perempuan lebih banyak disuguhkan kisah romantis kota besar. Buku ini semacam jadi oase baru di dalam dunia literasi - sastra wangi.

Yang masih saya kurang paham sampai saya membaca ulang ini, kasus utama penyelundupan kayu malah tidak tergali dengan baik. Saya malah mengira kasus tersebut hanya jadi hiasan pemanis saja. Padahal, saya akan lebih suka kalau kasus tersebut diangkat lebih jauh, sehingga ketegangan cerita akan lebih terasa. Kan sudah pasti dong, kalau kasus yang melibatkan pihak berkuasa akan lebih menegangkan daripada hanya sekedar kasus pembunuhan dalam skandal keluarga?

Akhir kata, saya memberi bintang 3.5 untuk novel ini. Tiga untuk nilai umum dan setengah untuk genre yang diangkat. Selamat membaca!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar