Rabu, 13 Desember 2017

Bacabaca 38: Spammer oleh Ronny Mailindra

Judul: Spammer
Penulis: Ronny Mailindra
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: 2016
Tebal: viii + 320 halaman, paperback
ISBN: 9786022911890

Code name: LEAK
Seorang hacker andal yang disewa pengusaha korup untuk menghalau langkah KPK.

Code name: Bocah_Koplak
Seorang spammer yang mendapat uang dari menyebarkan virus ke ribuan komputer secara acak.

Vergis tak menyangka kegiatan spamming yang dilakoninya akan mendatangkan bencana. Hidupnya berubah mencekam ketika ia diserang sekelompok orang yang berniat membunuhnya. Ternyata, tanpa sengaja , virus yang Vergis sebar berhasil mencuri file bukti tindak korupsi yang dilakukan Aven Dogoan bersama anggota DPR dan menteri. Dan, Aven ingin Vergis dihabisi, membuat Vergis terpaksa kabur.

Sialnya, ke mana pun ia pergi, keberadaannya selalu berhasil dilacak oleh hacker bernama Leak. Karena tak bisa lari lagi, Vergis akhirnya memutuskan untuk balas melawan. Adu taktik serta kecerdikan tak terelakkan. Perang digital di antara kedua peretas tersebut menjadi semakin berbahaya, apalagi ketika Leak dan Aven berhasil menculik Rinjani, kekasih Vergis. Vergis pun harus mencari cara guna menyelamatkan kekasihnya, meski nyawa mereka berdua menjadi taruhan.

***

Akhirnya selesai baca buku ini. Pertama-tama, saya mau mengucapkan selamat buat Bang Ronny Mailindra atas novel debutnya. Yeay!

Sekarang saatnya kita beralih ke ulasan novel ini. Seperti yang bisa kita baca dari sinopsis singkat di belakang sampul, novel ini memuat tema yang tidak biasa. Genre thriller yang diusung memakai tema kejar-kejaran cyber para hacker. Mungkin, novel ini bisa dikategorikan sebagai techno-thriller.

Sebagai IT system administrator, saya mungkin agak mengernyitkan dahi saat membaca beberapa istilah IT yang menurut saya berbeda seperti apa yang saya biasa lakukan setiap hari. Tapi, saya mencoba memposisikan diri sebagai pembaca awam, yang tidak paham IT. Menurut pengamatan saya, novel ini sudah cukup mengakomodir keingintahuan pembaca akan beberapa istilah IT yang ada. Tak banyak penulis yang bisa dengan lihai membeberkan istilah teknis pada pembaca tanpa membuat pembaca merasa sedang diberikan kuliah singkat. Apa yang disajikan di sini benar-benar "show don't tell". Walau ada deskripsi teknis, tapi deskripsi itu diselingi dialog-dialog antar tokoh yang menambah aksi dalam novel ini terasa lebih hidup.

Walau begitu, saya rasa di tengah novel (sekitar di atas halaman 140-an), peningkatan konflik kurang konstan. Masalahnya sih, karena di blurbs novel diceritakan tentang penculikan Rinjani, pacar Vergis itu. Nah, pas saya cek bagian tengah novel, kok penculikan itu belum terjadi? Kok si Vergis kabur ke Bandung? Kok ini, kok itu? Rasanya alur agak lambat, walau nggak lambat-lambat amat. Selain itu, mungkin kalau penculikan Rinjani dibuat agak awal sebagai pemicu konflik batin Vergis, dengan begitu Vergis akan lebih sigap dalam berpikir dan bertindak nggak "loba teuing mikir" kalau orang Sunda bilang. Cara eksekusi penyelamatan Rinjani tentunya akan lebih menantang, misalnya seperti di dorama Bloody Monday, saat Falcon menyelamatkan kawannya bahkan menyelamatkan seluruh Jepang dari para penjahat yang merupakan anggota organisasi militan.

But, it's a Japanese drama, and this is not. Makanya, antara Spammer dan Bloody Monday jelas berbeda, dengan premis berbeda pula. Kalau Bloody Monday memiliki premis tentang organisasi militan yang ingin melenyapkan seluruh populasi Jepang-bahkan dunia, kalau Spammer ini berkutat di penyidikan KPK yang gagal karena ulang seorang hacker andal.


Nah, sekarang saya juga ingin memberitahu si Vergis dan si Leak beberapa hal (iya betul, saya sedang berkomunikasi dengan tokoh novel).

"Hai, Gis. Lain kali kalau punya master server, punya slave server atau backup server juga dong, dan jangan lupa running di bawah load balance dan aktifkan replikasinya." :P

"Hai, Gis. Lain kali, walau kamu sudah pakai pem atau private key, SSH port tetap diganti dong dan jangan lupa aktifkan host sweep filter, jadi pas ada yang NMAP ke server kamu, dia akan ter-block, berapapun concurrent connection yang dia lakukan."

"Dan buat Leak, seriously lo ini hacker? Hacker kok social engineering-nya sejelek itu sih? Belum lagi, lo terlalu banyak mikir dan mendewakan diri lo. Coba deh contoh si Elliot di Mr. Robot, dia lebih fokus ke meneror orang dengan data yang ia punya, daripada sibuk bilang semesta mendukungku. Eh tapi, lo nggak salah sih, Le. Ada juga hacker yang memang punya penyakit narsis kayak begitu, walau sebagian di antaranya itu low profile. Kalau ada waktu, nanti gue kenalin sama temen-temen hacker gue yang gue juga nggak tahu mukanya kayak bagaimana."

Dan buat Roy, teman Vergis, "Lain kali, kalau ngaku sahabat, jangan main pancing pacar sahabat gara-gara lo takut mati dong! Namanya sahabat, udah pasti bakal melindungi kan?"

Eits, satu lagi deh. Saya agak penasaran sama si Dukun_101, karena dia ini yang sebenar-benarnya hacker menurut saya. Dia invisible, membantu Vergis dari balik layar dan dia rasanya bakal menarik kalau diangkat menjadi kisah yang terpisah atau mungkin bisa tetap duet sama Vergis di kisah selanjutnya. Hmmm.

Hahaha. Ya kira-kira begitu aja deh ulasan dari saya. Selebihnya sih, saya selalu salut dengan teman-teman yang menerbitkan naskah thriller. Naskah tipe begini, masih jarang di Indonesia dan patut diapresiasi kehadirannya. Jadi, saya pasti tunggu karya-karya Bang Ronny selanjutnya dan bagi teman-teman yang berniat membaca, selamat menikmati!

4 komentar:

  1. Beginilah kalau orang IT mengomentari novel berbau IT.
    Makasih reviewnya Ayu.

    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah! Terima kasih sudah mampir, Bang Ronny!

      Ditunggu karya terbarunya yaaa. :D

      Hapus
  2. Beuh, spammernya dibantai, hahaha.
    I like this review.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini namanya "personal review" sih, bukan bantai. Gue tidak memposisikan diri jadi penulis, tapi jadi pembaca awam dan pembaca yang kerja di IT (ada 2 perspektif). Wkwk.

      Hapus