Jumat, 24 November 2017

Bacabaca 37: Koin Terakhir oleh Yogie Nugraha

Judul: Koin Terakhir
Penulis: Yogie Nugraha
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: Juli 2013
Tebal: 304 halaman, paperback
ISBN: 9786027888579

Sebuah data rahasia milik pemerintah yang disimpan dalam koin berongga dicuri dari Lembaga Sandi Negara. Keamanan nasional terancam hancur jika data itu disebarluaskan. Badan Intelijen Negara pun turun tangan. Mereka menugaskan Zen, agen terbaik BIN, untuk menuntaskan kasus ini.

Lokasi koin terdeteksi, target pun terkunci. Penugasan yang terdengar sederhana menjelma menjadi malapetaka tak terduga, membawa Zen melintasi berbagai negara Eropa, bahkan mengancam nyawanya. Waktu semakin menghimpit, Zen harus bergegas menuntaskan misinya … hanya untuk menemukan bahwa ia berada tepat di tengah konspirasi sebuah organisasi rahasia.

Di tengah gejolak politik dan ekonomi global yang berkecamuk, sebuah skenario besar telah disiapkan. Bangsa ini tersingkir menjadi orang asing di negeri sendiri. Ketika politik menjadi serupa perang tanpa peluru, batas antara kawan dan lawan semakin membingungkan. Zen pun akhirnya harus mempertanyakan, siapa sebenarnya musuh mereka?

***

Akhirnya selesai baca buku ini. Yah, so-so lah yaaaa...

Jadi, buku ini menceritakan tentang perjalanan seorang agen rahasia dalam misinya, yaitu untuk menemukan koin yang berisi data rahasia. Semakin lama, saya malah semakin bosan. Kisah dan plotnya terlalu njelimet hanya untuk sebuah koin.


Bisa dibilang, kalau sub genre thriller--spionage--yang satu ini belum begitu menarik pembaca (kecuali blurb dan kemasan bukunya yang berhasil memaksa saya untuk membelinya). Isinya cuma jalan-jalan dan latar negara lain yang ada di sini seolah-olah hanya tempelan setting yang memaksa. Benar sih memang, James Bond dan agen rahasia di serial atau film mata-mata lain juga melakukan perjalanan selama misi, tapi yang ini berbeda karena menurut saya, si Zen ini hanya 'jalan-jalan' biasa.

Belum lagi, pembahasan filsafat yang terlampau... 'iuuuhhhh', membuat saya mengatakan itu, karena rasanya, tak pantas saja memasukan ide-ide filsuf di dalam bab buku secara tiba-tiba, seolah ingin memberi kuliah dadakan pada pembaca. Eksekusi propaganda ilmu filsafatnya menurut saya kurang smooth, jadinya malah membuat pembaca mengernyitkan dahi dan merasa digurui (setidaknya menurut saya, nggak tahu kalau yang lain). Berbeda dengan novel bermuatan filsafat yang masuk kategori Sastra, justru malah eksekusinya sangat halus. Atau, coba kita lihat Sophismata yang penuh muatan politik, tapi Timur--si tokoh Partai Indonesia Setara--tidak berbusa-busa dalam menjejalkan pemahaman politiknya.

Tapi, sejauh ini, karena saya jarang membaca genre seperti ini yang ditulis oleh penulis Indonesia, saya sangat menghargainya. Jadi, saya memberi dua bintang sebagai bonus atas diambilnya tema spionase untuk novel ini. Saya berharap, penulis yang lain juga berencana untuk menulis genre-genre seperti ini. Semangat buat Yogie Nugraha, semoga karya selanjutnya lebih keren lagi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar