Minggu, 19 November 2017

Bacabaca 34: Interlude oleh Windry Ramadhina

Judul: Interlude
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: Mei 2014
Tebal: 380 halaman, paperback
ISBN: 9789797807221

Hanna,
listen.
Don’t cry, don’t cry.
The world is envy.
You’re too perfect
and she hates it.

Aku tahu kau menyembunyikan luka di senyummu yang retak. Kemarilah, aku akan menjagamu, asalkan kau mau mengulurkan tanganmu.

“Waktu tidak berputar ulang. Apa yang sudah hilang, tidak akan kembali. Dan, aku sudah hilang.” Aku ingat kata-katamu itu, masih terpatri di benakku.

Aku tidak selamanya berengsek. Bisakah kau memercayaiku, sekali lagi?

Kilat rasa tak percaya dalam matamu, membuatku tiba-tiba meragukan diriku sendiri. Tapi, sungguh, aku mencintaimu, merindukan manis bibirmu.

Apa lagi yang harus kulakukan agar kau percaya? Kenapa masih saja senyum retakmu yang kudapati?

Hanna, kau dengarkah suara itu? Hatiku baru saja patah…


***

Seperti buku-bukunya kak Windry yang lain, Interlude adalah page turner yang dalam sekali duduk bisa diselesaikan. Tapi, mungkin ini agak beda dari buku kak Windry yang lainnya. Yah, gimana ya menjelaskannya? Mungkin, karena ini naskah pesanan (seperti yang sudah dijelaskan dalam ucapan terima kasih di bukunya)?


Jadi, karena ini pesanan, mungkin agak lebih dipaksakan untuk bercerita sehingga konfliknya kurang tergali dengan baik. Trauma pelecehan seksual biasanya membuat orang menarik diri dan benar-benar defensif terhadap kehadiran orang lain. Tapi, masa iya sih Hanna bisa begitu terbuka lagi terhadap laki-laki dengan mudah (atau bahasanya, kenapa dia bisa begitu dengan Kai, walau Gitta sudah memberitahu tentang Kai yang berengsek?). Padahal, terapis Hanna yang perempuan saja agak susah berbicara dengan Hanna. Tapi, seorang 'laki-laki' seperti Kai bisa bicara dengan Hanna dan membuat gadis itu tidak bisa berpaling. Ini semacam 'keanehan' yang saya temui. Saya jadi berpikir, jangan-jangan Hanna memang terlalu tebar pesona atau pura-pura penasaran? Atau dia memang centil begitu aslinya?

Selain itu, alasan hidup Kai yang asal-asalan hanya karena keluarga broken home atau tidak bisa menyelesaikan konflik dalam keluarga itu juga agak klasik, seperti klasiknya sinetron Indonesia yang memiliki tema serupa. Biarpun begitu, secara keseluruhan sih oke-oke saja buat saya yang juga suka musik, walau musik yang disajikan di sini dominan jazz. Pengetahuan akan jazz dalam buku ini juga memberi bobot lebih bagi pembaca.

Yang paling saya sukai malah bukan dari penggalian konflik personal Hanna, tapi memang gaya bercerita kak Windry sendiri. Seperti biasa, kak Windry sukses memakai bahasa baku yang tidak kaku walau disajikan dalam novel romance ini. Sampai kapanpun, menulis kisah cinta perkotaan dengan bahasa baku yang bagus seperti ini, bukan perkara mudah.

Jadi, dengan pertimbangan tersebut, saya memberikan rating 3.5, terlepas dari konfliknya yang kurang tergali dan escalated quickly.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar