Kamis, 16 November 2017

Bacabaca 32: Spora oleh Ahmad Alkadri

Judul: Spora
Penulis: Alkadri
Penerbit: Moka Media
Terbit: Oktober 2014
Tebal: 235 halaman, paperback
ISBN: 9789797959104

Ini adalah SPORA: sebuah kisah horor/fiksi ilmiah yang bercerita tentang Alif, seorang anak SMA yang mendapati spora misterius menginfeksi orang-orang di sekolahnya. Tak ada yang selamat jika terinfeksi... kecuali Alif sendiri. Rasa ingin tahu menguasainya, dan dia pun mendapati kenyataannya jauh lebih ganjil daripada yang bisa ia bayangkan.

Sesosok kurcaci. Seekor monster. Penyakit tak terhentikan. Dan masa lalunya yang menghampirinya kembali. Akankah ia selamat?


***

Temanya udah sip banget. Malah, untuk horror berbau sci-fi, kurang lebih bisa mengejar Kemamang-nya Koen Setyawan yang diterbitkan sama Goodfaith.

Tapi, ya gitu. Meski temanya sip, sepertinya eksekusi naskah masih ada beberapa yang kurang. Ibarat puzzle, rasanya novel ini masih ada kepingan puzzle yang sembunyi, alias nyumput dari pembaca. Pembaca sih oke-oke saja, apalagi pembaca kayak saya yang suka banget ngelewatin bagian-bagian yang saya rasa kurang penting atau bertele-tele. Hehe.

Nah, apa saja puzzle yang kurang dari novel ini? Berikut ini beberapa catatan saya yang sempat saya simpan dulu di harddisk dalam kepala saya yang untungnya sampai sekarang masih tersimpan.

Tapi, sebelum menyebutkan yang kurang, saya sebutkan beberapa yang bagusnya atau nilai plus dulu kali ya.

(+) Tema menarik. Spora yang bisa menjangkiti sel manusia dan mengubah manusia jadi monster, ini benar-benar sci-fi abis.
(+) Setting Bogor yang merupakan kota hujan (dan pastinya lembab) memang paling pas buat jadi tempat perkembangbiakan spora.
(+) Selingan dongeng yang masih masuk sama ide cerita.
(+) Sampul dan tata letak buku yang ciamik. Moka Media patut dipertimbangkan nih ke depannya sebagai salah satu penerbit yang keren. Memperkaya dunia literatur buat young-adult. Hahaha.

Nah, sekarang beberapa minus dan kekosongan puzzle, menurut saya aja sih.

(-) Deskripsi soal sporanya kurang detail nih. Kalau memang diambil dari literatur Biologi yang pernah penulis dapatkan sewaktu kuliah, harusnya bisa lebih detail lagi dijelaskannya untuk memperkaya isi novel itu sendiri.
(-) Tokoh Alif rasanya kurang emosi dan kurang kuat penokohannya. Hmmm, apa memang dibuat kayak gitu? Tapi, saya benar-benar nggak bisa masuk ke dalam dunia Alif. Dia malah kayak cuma jadi figuran yang lewat di setiap frame film gitu. :(
(-) Jamurnya bisa menguasai medium hipokampus? Otak? Keren sih, tapi... Hmmm. Jadi ingat film Mimic, Parasyte, dan semacam itu.
(-) Ada beberapa hal yang rasanya kurang jelas aja, kayak ending novelnya. Seperti ketika dijelaskan tentang sumber spora jamur itu ternyata dari Brazil. Lantas, dibawanya spora tersebut untuk tujuan apa? Misalnya, kalau dibuat untuk tujuan memusnahkan populasi rakyat Bogor--setelah mendapat izin pemerintahan misalnya dan menjadikan anggota KIR sebagai umpan penarik, kemudian malah salah diteliti dan jadi bumerang, rasanya itu masih bisa diterima. Tapi, kalau spora ini dibawa karena "iseng", jauh-jauh dari Brazil dan voila! Ternyata spora itu malah bisa mengubah manusia jadi monster yang meledakkan kepala sendiri, saya merasa ganjil aja di situ. Kalau kalian, ganjil nggak?

Yah, mungkin puzzle itu biarkan menjadi misteri dan biarkan penulisnya yang tahu. Mungkin, Alkadri mau buat sequelnya? Satu lagi, saya kok merasa ini novel agak mirip-mirip Kiseiju / Parasyte. Manga Jepang yang garis besar ceritanya juga tentang 'makhluk' pencari inang. Tapi, kalau nggak salah, di Kiseiju, makhluknya ini kayak alien dan bukan makhluk yang berasal dari bumi.

Kalau begitu, sekian dulu ulasan singkat yang diketik dari handphone dan begitu 'sotoy' ini. Haha. Sesungguhnya, ulasan yang sok tahu adalah ulasan yang sejujur-jujurnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar