Selasa, 14 November 2017

Bacabaca 27: Nel oleh Dalih Sembiring

Judul: Nel
Penulis: Dalih Sembiring
Penerbit: Pink Ink
Tanggal Terbit: 1 Agustus 2009
Tebal: 160 halaman, paperback
ISBN: 9789791841

Seorang gadis mengalah dalam patah hatinya, namun tidak dalam meminta jawaban mengapa ia ditinggalkan. Seorang pemuda berangkat ke tanah seberang demi mengobati kerinduan, meski hanya tersampaikan pada sepucuk nisan. Ikut terjalin dalam kisah mereka seorang lelaki misterius, perempuan yang mengidap gangguan kejiwaan dengan masa lalu yang berlumur darah, serta puluhan karakter yang tak menyadari bahwa peperangan di kota mereka yang kecil sedang merangkai ceritanya sendiri.
***
Ulasan ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 2013 di Goodreads, tapi baru saya unggah ke blog hari ini, karena blog bukunya baru punya. Nah, saya sendiri menemukan link download buku ini dari situs penulisnya sendiri di www.bekabuluh.com. Karena menemukan bahwa kontennya telah dihapus, maka saya request agar file buku ini dikirimkan ke email dan hari itu juga dikirimkan oleh sang penulis.

Niat awal memang hanya untuk mengatasi kejemuan di kantor. Berkutat dengan pekerjaan lumayan bikin bosan. Maka, saya buka file buku ini dan mulai membaca.

Seperti yang sudah-sudah, biasanya saya tak pernah menyelesaikan bacaan dalam bentuk *.pdf atau ebook lainnya. Namun, rasanya novel "Nel" ini berbeda dan harus dibaca sampai tuntas. Entah bagaimana caranya, Bang Dalih bisa membawa saya ke dalam lika-liku kehidupan yang bisa dibilang masih sangat tabu di Indonesia. Dengan gaya bahasa yang indah, mengalir bagaikan syair, saya dibawa Bang Dalih menjelajahi kehidupan seorang pemuda yang banyak diam bernama Nel. Daniel nama aslinya.

Berawal dari kisahnya dengan seorang perempuan bernama Vian, yang tak mulus seiring waktu, Nel berjelajah ke kampung halamannya, mencoba bernostalgia dengan masa kecil, masa lalu, sebelum akhirnya dibawa pada teka-teki yang perlu dicari jawabannya.

Selain dibawa menjelajahi sejarah hidup seorang anak manusia, kita juga dibawa menjelajahi sebuah kota kecil bernama Binjai. Mengunjungi lekuk jalan dan juga hutan. Berbelok ke rangkaian pegunungan Leuser juga tempat-tempat yang sebelumnya tak diketahui orang. Lewat penuturan Bang Dalih yang rapi, saya menikmati cerita tentang Nel.

Namun, novel ini tidak hanya sekedar cerita cinta terlarang, tetapi juga membawa muatan sosial-politik yang sempat panas di daerah tempat sebagian besar masa kecil Nel dihabiskan. Konflik masyarakat yang terjadi, turut mewarnai penjelajahan Nel dalam mencari masa lalu, hingga mengantarkan Nel ke sebuah pusara yang telah lama dirindukan. Dalam novel ini, kita akan melihat kenyataan cinta yang pahit, yang jauh dari kota besar, jauh dari ke-metropop-an cinta urban, karena bagi Nel dan orang yang dicintai, tempat yang pernah menjadi rumahnya bukanlah tempat ramah atas hubungan keduanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar