Selasa, 03 April 2012

Bacabaca 6: Danur oleh Risa Saraswati

"Tahukah kalian apa itu Danur? Danur adalah cairan berbau yang menyeruak dari seseorang yang sudah mati...."

Abaikan tulisan curhat saya Senin kemarin. Itu hanya buah pikiran di sela-sela rutinitas membosankan kok. Hari ini Selasa, dan sesuai janji untuk diri sendiri--meski membuat bingung--saya ternyata bisa membereskan buku ke-15 di tahun ini. Sejauh ini, janji membaca dari reading challenge di Goodreads yang seharusnya tidak perlu diambil pusing nyatanya malah bisa maju sedikit-sedikit, sesuai target. Dan karena janji pun, saya menulis ulasan buku-buku bacaan itu untuk menghibur teman-teman sekalian.

Risa Saraswati
Saya adalah tipe orang yang suka membaca berbagai jenis buku. Di antara ribuan perempuan seusia saya yang senang membaca roman klasik, metropop, dan beberapa kisah fantasi, saya mengabaikan pemahaman itu. Buku saya cukup beragam, dari yang saya miliki sampai pinjam ke teman. Dan kali ini, saya membaca buku beraroma horror dengan gaya bercerita seperti diary karena sepertinya buku ini memang slice-of-life dari si penulis sendiri, Risa Saraswati.

Sedikit info, Risa adalah musisi. Musisi yang dulu tergabung dalam band indie bernama Homogenic. Sekitar beberapa tahun lamanya setelah Homogenic mulai digandrungi para pecinta musik keren di Bandung, Risa keluar dan membentuk Sarasvati--proyek solo Risa sendiri.

Sarasvati yang terkesan misterius dan suram ternyata didasari dari kisah Risa yang sejak kecil senang berbicara dengan tembok--sepertinya ada sesuatu di depan tembok itu, seperti hantu misalnya? Dan lirik-lirik lagu yang terdapat dalam lagu Sarasvati, ada juga di buku yang dia tulis sendiri, berjudul Danur. 

Buku Danur saya temukan di rak ketiga, di antara deretan buku bergenre campuran dalam indeks Indonesian Books di Kinokuniya Plasa Senayan. Buku yang hanya tinggal satu-satunya ini saya ambil. Apa yang membuat saya penasaran ingin membelinya? (Waktu itu saya beli bersamaan dengan buku Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu) yang pernah saya ulas di sini.)

Jadi, sampul buku ini menarik. Setelah saya telusuri, ternyata sinopsis di bagian belakang buku juga menarik. Biasanya, indikator saya dalam membeli buku yaaa seperti itulah. Setelah ditelusuri lagi, ternyata penerbitnya Bukune--masih anak Gagasmedia juga. Dan saya putuskan untuk membeli buku ini bersamaan dengan buku Djenar Maesa Ayu yang juga tinggal satu. Selain sampul dan sinopsis, endorsement dari seorang jurnalis majalah musik pun memberi komentar seperti ini:
Meski membuat bulu kuduk berdiri, novel ini bukan buku misteri. Novel ini sesungguhnya bercerita soal persahabatan antar dimensi dengan cara yang menyentuh. Bisa dibilang, Risa telah 'memanusiakan' makhluk-makhluk halus itu lewat novel ini. — Soleh SoLihun, Jurnalis Rolling Stone Indonesia
Hari-hari berlalu dan sudah saatnya saya membuka buku ini. Antara perasaan ingin membukanya dan tidak ingin. Pasalnya, saya ini penakut. Saya masih percaya kalau hantu bisa dengan tiba-tiba memunculkan wajah mereka. Saya takut kalau membaca Danur bisa membuat saya bersugesti yang macam-macam. Setelah memastikan lagi, akhirnya saya baca buku tersebut.

tampilan cover depan dan belakang buku

Danur bercerita tentang kisah hidup Risa sejak kecil sampai dewasa. Risa yang sejak kecil memiliki kemampuan untuk melihat makhluk halus dan berbicara dengan mereka, mendapatkan lima orang teman kecil yang berbeda dunia dengannya. Semua indah pada awalnya, sampai suatu ketika, kelima temannya menagih janji Risa untuk bisa bersama mereka selamanya. Ketika umur Risa 13 tahun, mereka menagih janji pada Risa perihal dirinya yang ingin bersama Peter, Hans, Hendrick, William, dan Janshen di dunia hantu. Ternyata, hal itu tidak bisa Risa tepati sehingga membuat kelima temannya menjauh. Kelima teman Risa ini adalah hantu Belanda yang berdiam di rumah Risa tinggal karena mencari sesuatu yang belum selesai.

Kehilangan sahabat hantu membuat Risa menjadi perempuan murung yang semakin hari semakin aneh. Risa pun sadar kalau dirinya harus menjadi perempuan normal, mengingat usianya yang sudah semakin beranjak dewasa. Risa pun berjanji pada diri sendiri untuk mengabaikan segala kemampuannya dengan berpura-pura tak bisa melihat hantu. Namun, masalah lain muncul. Hantu-hantu yang mulai beragam jenisnya itu, menghampiri Risa karena tahu bahwa Risa bisa melihat dan berkomunikasi dengan mereka. Tak jarang ada hantu yang sangat buruk rupa dengan bau Danur yang menyengat, menghampiri Risa untuk meminta pertolongan. Hal itu membuat Risa mengutuk kemampuannya dan perlahan-lahan teringat akan sahabat hantu pada masa kecilnya.

artwork Danur

Menjelang akhir cerita, Risa dikabarkan sama seperti pada kondisi aslinya. Risa yang suka bermusik dan tergabung dalam band, mulai bersolo karir. Terlihat sekali bukan, kalau kisah ini memang slice-of-life si pengarang itu sendiri. Dan Risa yang bersolo karir itu membuat lagu yang didedikasikan untuk sahabatnya, dengan judul lagu Story of Peter. (Lagu ini juga judul lagu Sarasvati yang Risa bangun lho! Bisa didengar di youtube atau web Sarasvati di sini.)

Lagu yang dibawakan dengan segenap hati itu akhirnya memunculkan kembali lima sahabat kecil Risa. Para hantu Belanda yang dulu mewarnai hidup Risa yang muram. Dan akhir cerita pun dibuat sebagai akhir dari buku diary Risa sendiri.

Isi buku ini rupanya tak seperti yang saya harapkan. Meski membuat saya bergidik kala membaca bagian hantu-hantu yang seram, tapi tak membuat saya terbawa alur. Hal itu pula yang membuat saya harus melewati waktu yang lama hanya untuk membaca sebuah buku ringan. Berbeda dengan buku bertopik berat yang bisa saya habiskan semalam saja karena tema dan alurnya yang mengalir. Tapi, saya sarankan jangan membaca buku ini sendirian, karena Risa sukses membuat sugesti bahwa ada yang menemani kalian saat membaca buku. Hehe. Jadi, untuk rating buku ini saya beri angka 3.5 dari 5 ya! [Ayu]

Judul: Danur
Penulis: Risa Saraswati
Penerbit: Bukune
Genre: Drama, Slice-of-life, Horror
ISBN: 602-220-019-9
Halaman: 216
Harga: Rp 30.000,-
Rating: 3.5 / 5
Gambar: random google

39 komentar:

  1. mungkin saja ada yang menemani saya saat membaca artikel ini, hhee

    BalasHapus
  2. andaikan saya punya keberanian untuk baca yang horor, pasti udah masuk list di beli, tapi sayangnya saya penakut jadi baca sinopsisnya aja :), pity me..

    BalasHapus
  3. Hallooo, salam kenal :)
    Sepertinya saya baru pertama kali ke sini, yah? :) W

    Wah, rajin banget review buku. targetnya berapa di GR? Hiks, ajdi inget buku2 yang terbengkalai :(

    Ini reviewnya tuntas? gak jadi spoiller? :)

    BalasHapus
  4. @NFYaaaah. Padahal lumayan rame sih. :D

    BalasHapus
  5. Kya kya... Kalo ane lebih suka baca review atau sinopsisnya aja daripada bukunya sendiri. Kalo ane udah dpt gmbaran dari sinopsis yg ayu tulis, buat apa ane baca bukunya? Bhahaha

    itulah knp ane nganggep kalo pembaca itu lebih hebat dari penulis. Apalagi pembaca yg bisa menyinopsiskan isi pikiran si penulis. Karna seberapa morfinisnya kata2 penulis bisa men-sakau-kan pembaca, tetep gak ada apa2nya tanpa pe-review kayak Ayu ini! Hehehe

    BalasHapus
  6. Ripiunya kerenn deh..salut Mbak semalam bisa ngabisin satu buku. Itu jaman muda saya dlu sehari bs lbh dr satu buku #deuh berasa tua neh jadinya

    BalasHapus
  7. @anazkiaGak jadi spoiler biar bisa baca juga yang lainnya. :D Saya kan senang sharing. ^^

    BalasHapus
  8. @eksakSaya juga nulis, nulis review. XD

    BalasHapus
  9. @Ririe KhayanSaya juga bacanya di sela-sela waktu, termasuk ketika lagi berdiri di dalem Kopaja. :D

    BalasHapus
  10. ha .. ahaha ...ha...aha ... gitu yg gw inget mah, hihihiy, si teteh sekarang kemana ya, gak pernah kedengeraan kabarnya :D

    BalasHapus
  11. @Stupid monkeyMaksute sopo? Teteh sopo? Teh Risa? Kayak yang kenal ajaah :P Hehe. Teteh Risa sekarang masih nulis di blognya dan sarasvatimusic[dot]com. Mampir ajeee. :D

    BalasHapus
  12. dan untungnya kita ngga bisa melihatnya... coba kalau bisa.. hmm...

    mungkin hanya, belum terbiasa.. :D

    BalasHapus
  13. hoby kita sama..., sy jg doyan baca buku apa sj.., kebanyakan novel, cergam, fantasi dll.., tp itu dlu.. :)

    bicara soal novel horor sy jd ingat pengarang horor favorit sy waktu SMA dlu namax Tara Zagita namax..., gk terkenal ya hehee...

    BalasHapus
  14. huaaa,,keren ada bukunya,,
    pernah lihat di bukan empat mata..
    lagunya bikin merinding,,
    apalagi di tatar sunda latarnya.hhiiyy

    BalasHapus
  15. Bagus yu reviuw bukunya, gak perlu baca dah ngerti isinya hahaha...

    Kayak nonton indigo aja ya, anak2 bisa lihat hantu hihhh serem :D

    BalasHapus
  16. @srulzSaya juga gak kepikiran kalau saya bisa lihat hantu T_T

    BalasHapus
  17. @Lentera LangitUmmm, saya belum dengar, tapi mungkin akan saya cari bukunya. :D Sepertinya susah juga cari buku penulis dulu... :( Tapi, menurut saya justru di situlah tantangannya. Hehe.

    BalasHapus
  18. @arr rianIya tuh lagunya semacam klenik-klenik gitu yaaa :D

    BalasHapus
  19. @Anak RantauIndigo itu kan memang sebutan untuk anak-anak yang senang bicara sendiri, alias bicara pada yang tak kasat mata. Hiiiii. #merinding

    BalasHapus
  20. wow. horor ya mba ayu? ini kisah pribadi penulisnya? aku belum berani baca buku horor. takut tersugesti seperti yang mbak ayu bilang. serem aja kalo dlihatin wujud hantu. hehe :D

    BalasHapus
  21. bukunya keren ya ayu, tapi kalo mau baca harus ada yang nemenin ya....wah, jadi merinding nih...hehe...

    BalasHapus
  22. salam kenal, hanya ini yg bisa aku katakan dalam kunjungan pertamaku..
    mgkn stlh berkunjung kembali aku akan beri komentar hehehehe.

    BalasHapus
  23. Baru tau ttg orang ini... Risaaa, hmmm...

    BalasHapus
  24. @Ila Rizky NidianaHeheheee :D Iya. Serem juga kalo bisa lihat hantu >,<

    BalasHapus
  25. @s y a mAwas Syam! Di belakangmuuuu. :P

    BalasHapus
  26. jadi seperti anak indigo yah.
    tapi salut sepertinya kalai di filemkan. biar filem yang berbau bau "bau" diindonesia jadi filem genre hantu yang beneran XD

    BalasHapus
  27. Huiii... lengkap bener riviewnya. Cerita seperti itu sebenarnya seru banget, tapi kalo udah berada di tanganku... eem... pikir-pikir dulu mau bacanya.
    Aku tunggu review-review selanjutnyaa :)

    BalasHapus
  28. yang menemani ku baca artikel ini sebotol aqua :D hahhaa

    jadi penasaran ame sugestinye *ehemm*

    BalasHapus
  29. @naspardkalo difilmkan mungkin rame juga. :D

    BalasHapus
  30. @Si Beloawaaaas ada apa ituuuu yang ngintip2 :P

    BalasHapus
  31. Wajah di fotonya itu terkesan dingin dan misterius ya? Baru liat foto penulisnya aja saya sudah bergidik. Pengalamannya pasti seru2 sampai2 bisa menunjukkan ekspresi begitu ..

    BalasHapus
  32. @MugniarIya, misterius. Dan memang mungkin itu style-nya, karena sejak di band Homogenic juga begitu kok Mama. Kayak model White Shoes and The Couples Company.

    BalasHapus
  33. duuh, berani sikat gigi sebelum tidur gak ya...
    gelapp...

    oia, kalo saya mah sehari bisa habis 4 buku.....KOMIK,,, hehehehe

    sist, boleh pinjem Danur-nya enggak? pengen baca ni...
    @_@

    #tampang mupeng

    BalasHapus
  34. kunjungan gan .,.
    bagi" motivasi
    kegagalan bukanlah akhir .,.
    kesuksesan juga bukan akhir .,.
    tapi proses merupakan cerminan akhir .,.
    di tunggu kunjungan blik.na gan.,

    BalasHapus